Rudy Setiawan, Pemilik Restoran Kepiting yang Kini Kembangkan Agrowisata

TERBATASNYA jenis objek pariwisata di Kaltim adalah peluang. Hal itulah yang mendasari keseriusan Rudy Setiawan untuk membangun destinasi wisata. Memanfaatkan potensi alam, pengusaha yang dikenal sebagai pemilik Restoran Kepiting Dandito itu kini serius menjajal agrowisata.

Kemarin (14/5), Kaltim Post berkesempatan menyambangi perkebunan miliknya di Km 23 Jalan Soekarno-Hatta, Balikpapan Utara. Lahan seluas 4,5 ha itu berlokasi tak jauh dari wilayah konservasi Beruang Madu.

Di sanalah, pria yang identik dengan topi fedora ini menyulap hutan belantara menjadi destinasi agrowisata. Kawasan ini sudah dia bangun sejak 2012 lalu. Sampai saat ini, masih berlangsung proses pengembangan dan pematangan. Rudy menargetkan, paling tidak lima tahun lagi, kawasan ini akan rampung 100 persen dan sudah bisa menjadi destinasi wisata.

Proyeksi agrowisata ini merupakan pengembangan dari jaringan bisnis yang dibangun Rudy. Sebelumnya, hingga saat ini, Restoran Kepiting Dandito sudah sukses menjadi bagian dari pariwisata Balikpapan. Terbukti, setiap wisatawan yang berkunjung ke Kota Minyak, seperti tak lengkap jika tak membawa hidangan andalan restorannya itu.

Rudy mengungkapkan, kawasan agrowisata ini kelak akan dia namai Gifta Garden. Selain agrowisata, kelak lahan ini akan menjalankan fungsi sebagai lokasi edukasi anak. “Potensi besar yang masih sangat minim digarap di Kaltim.

Adapun nama Gifta, saya ambil dari nama anak sulung saya. Sama seperti saat saya menamai Restoran Kepiting Dandito dari nama Dandi, yang juga anak saya,” beber Rudy saat menemani Kaltim Post berkeliling di kebunnya.

Lebih lanjut tentang konsep, dia mengaku akan mengadopsi konsep yang diterapkan Kusuma Agrowisata di Batu, Malang. “Untuk itu, saya sebelumnya sudah memanggil Hari Subagyo, adik dari Direktur Utama Kusuma Argowisata Group, Edy Antoro. Dia yang membantu saya menyusun konsep agrowisata ini,” terang Rudy.

Keinginannya yang serius ini, dia wujudkan dengan menyiapkan beberapa pilihan objek di dalamnya. Mulai membuat area pemancingan, menanam bibit-bibit buah dan sayuran, fasilitas hidroponik, fasilitas penginapan berupa villa, outbond, dan sebuah restoran.

“Untuk bibit yang meliputi beberapa jenis buah dan sayur. Ada satu kontainer saya kirim dari Jawa Timur. Saya juga berencana menanam pohon khas Kalimantan, seperti ulin, bangkirai, dan meranti,” ucapnya.

Sebagian besar tanaman, kata dia, saat ini belum berbuah. Pria yang hobi membaca ini mengatakan, pohon yang sudah berbuah baru jeruk, buah naga, jengkol, dan sayuran. Khusus buah naga, hasilnya sempat mencapai sekitar 1 ton. Tetapi, akibat terserang hama, dia harus menanam ulang.

Sementara itu, hidroponik sudah dia kembangkan, dan terus berproduksi. Di dalam ruangan seluas 200 meter persegi, tumbuh beberapa macam sayuran. Mulai dari aneka selada, sawi, dan brokoli.

Untuk hidroponik, Rudy mengaku sudah menjualnya, di samping untuk kebutuhan di restoran. Termasuk pasokan ke petani, per bulan dia bisa menjual 300 sampai 350 kilogram.

Tak ketinggalan, aneka satwa juga akan dikembangbiakkan di kawasan ini. Sebut saja sapi, kambing, ayam, angsa, bebek, dan beraneka jenis burung.

“Lokasinya dekat dengan area hidroponik. Ada area pemancingan yang siap dipakai. Ini belum saya komersialkan. Yang ingin memancing bisa izin saya saja,” jelasnya.

Selanjutnya, di area belakang, sudah dibangun villa dari kayu. Hamparan pemandangan dari villa ini sangat menyejukkan mata. Rudy mengatakan, sudah ada tamu yang menginap. Per hari, dia memasang tarif Rp 1 juta. Itu sudah termasuk kesempatan menikmati seluruh area. Meskipun, sampai saat ini, dia belum meresmikannya.

“Ya, bisa dibilang soft launching. Hanya sebagian saja yang siap. Sisanya masih terus dikembangkan,” terangnya.

Kemudian, di area depan Gifta Garden, sebenarnya sudah terdapat sebuah restoran. Dibangun pada 2015 lalu, namun ambruk karena tertimpa angin kencang tahun lalu.

Restoran itu, kata Rudy, sudah sempat dia operasikan.

“Konsep restoran berbeda dengan Dandito. Makanan yang disediakan adalah hidangan khas pedesaan. Dasar bangunan terbuat dari kayu. Konsep baru sudah saya siapkan, dan setelah Lebaran Ramadan tahun ini akan dibangun lagi,” bebernya.

Tepat di bawah restoran, ada area untuk bermain gokart. Saat ini, fasilitas tersebut masih digratiskan.

Rudy berharap, lima tahun lagi, agrowisata yang dia kembangkan sudah sempurna. Di akhir perbincangan, dia beberkan konsep operasionalnya. Masyarakat dapat memetik buah-buahan dan sayuran langsung, setelah itu menikmati makanan di restoran.

Sedangkan bagi yang ingin menginap di villa, dapat menikmati semua fasilitas. Termasuk sesi edukasi bagi anak-anak. (aji/man/k18)

Source: Kaltim Post